Tinggalkan komentar

Begitu Indahnya Mereka Diberikan

Seperti halnya kekhawatiran orang tua terhadap anaknya yang baru belajar merangkak ataupun berjalan. Orang tua sangat takut anaknya terluka, oleh karena itu mereka selalu mendampingi anaknya ketika sang anak belajar berjalan. Walapun seandainya sang anak sudah dapat berbicara, ia pun ingin mengatakan ini pada orang tuanya wahai ayah dan ibu yang aku sayangi, jangan mengkhawatirkan aku. Biarkan aku terluka, karena dengan luka itu aku mengerti bahwa suatu proses tidak akan semudah yang aku bayangkan. Percaya padaku karena aku akan mencoba yang terbaik agar kalian bangga”. Atau mungkin seribu kalimat yang memiliki arti yang hampir sama dengan itu. Tapi karena seorang anak yang baru belajar berjalan tidak fasih berbicara maka tidak ada yang bisa mengetahui maksud hati anak tersebut. Maka dengan sepenuh hati, orang tua mengorbankan seluruhnya demi menjaga anak-anaknya agar tidak terluka.

Lantas pertanyaannya, apakah seorang anak yang sudah dewasa dapat dengan mudah berbicara seperti itu?? Seorang anak yang sudah fasih berbicara?? Mungkin tidak dan mungkin juga iya.

Apakah kekhawatiran orang tua berhenti hanya saat ketika sang anak dapat berjalan?? Dapat berbicara?? Menyelesaikan sekolahnya?? Menjadi sarjana?? Atau berumaht angga?? Hal itu mungkin tidak terfikirkan bagi sebagian dari kami (anak-anak) yang sudah merasa dapat berdiri sendiri lantas dengan kepercayaan dirinya berjalan di jalan yang ia suka. Tapi apakah rasa kehawatiran  itu masih tersimpan di hati mereka??

Semakin hari sang anak tumbuh dengan baik merangkak, berjalan, berbicara, dan akhirnya sang anak memasuki dunia pendidikan. Tetapi kekhawatian orang tua tidaklah berkurang, semakin hari perasaan itu bertambah dan selalu tersimpan indah di hati mereka paling dalam. Tidak terlihat tetapi dapat dirasakan oleh anak-anak yang mencintai orang tuanya.

Mungkin kami (anak-anak) tidak akan mengetahui sebesar apa mereka selalu mengkhawatirkan anak-anaknya. Tetapi sesungguhnya jauh di lubuk hati mereka dalam kesunyian, kesepian dan hari tua mereka. Mereka akan selalu setia dan menjaga perasaan itu. Perasaannya untuk anak-anaknya, kekhawatiran yang bahkan jika kita mengetahuinya seperti melihat satu butir beras dalam karung beras kita akan menangis meminta maaf dan meminta ampun atas segala dosa-dosa yang kita lakukan kepada mereka.

Begitu indahnya mereka diberikan oleh allah untuk kita, perasaan paling sejati di dunia.

Lalu kami sebagai anak-anaknya, tidak menerima kekhawatiran mereka terhadap kita. Berlagak lebih mengetahui dunia ini, mengetahui kehidupan ini dan akhirnya mengganggap apa yang mereka khawatirkan hanya sebatas “kekunoan mereka”

Suatu saat mungkin kita akan dihadapkan dalam suatu kondisi dimana dengan jelas mereka menunjukan kehawatiran mereka, bukan hanya dengan kata-kata dan perbuatan maupun perhatian lagi. Suatu saat dimana kami dan mereka berbicara dari hati ke hati dan saat itulah dirimu akan mengetahui betapa mereka sejak dahulu selalu mencintaimu dan mengkhawatirkanmu. Saat itu di mana dirimu tidak dapat berkata-kata apapun dan hanya linangan air mata yang mengalir. Saat itu ketika hati saling bersatu cinta anak, orang tua, dan allah.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: